Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan individu dan
masyarakat untuk mentransmisikan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan dan bentuk
ideal kehidupan kepada generasi muda untuk membantu mereka dalam meneruskan
aktivitas kehidupan secara efektif dan berhasil. Pendidikan juga pada hakikatnya dapat
didefinisikan sebagai suatu proses mengubah perilaku individu, ke arah yang
lebih baik. Proses pendidikan itu sendiri menurut Freire (2002) dimaknai sebuah
proses untuk membentuk manusia seutuhnya atau proses memanusiakan manusia
(humanisasi). Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membangun kesadaran kritis
peserta didik. Pendidikan juga memiliki tanggungjawab menumbuhkan rasa empati
dan simpati peserta didik terhadap lingkungan sosial masyarakat. Dalam
diskursus kali ini, pendidikan dititikberatkan pada Sekolah Dasar (SD). Pertanyaan
paling mendasar adalah, ada apa dengan
Pendidikan Sekolah Dasar?
Sekolah adalah basis utama pendidikan. Lewat lembaga sekolah maka nilai-nilai dan
norma ditransmisikan kepada peserta didik. Namun kita tak pernah tau dan sadar,
akan apa yang ada dibalik transmisi nilai tersebut. Ada kekerasan dibalik
proses transmisi tersebut. Mungkin tak asing bagi kita mendengar kata kekerasan
dalam dunia pendidikan, secara implisit itu adalah kekerasan fisik. Misalnya
kekerasan fisik seperti guru menjewer
muridnya, mencubit, memukul dengan penggaris, tawuran antarpelajar dan
sebagainya. Namun, banyak dari kita tak menyadari akan bentuk kekerasan lain,
yaitu kekerasan simbolik. Entah bagaimana
datangnya dan seperti tidak dihiraukan keberadaannya, tidak dapat dipungkiri
bahwa sekolah telah melakukan tindakan kekerasan simbolik tersebut. Kekerasan simbolik
memang tak terlihat wujudnya secara kasat mata, namun sebenarnya amat mudah
untuk diamati. Ia sebenarnya ada dimana-mana, dalam dunia pendidikan. Konsep kekerasan simbolik dikemukakan oleh
Pierre Bourdieu, sosiolog pendidikan asal Prancis. Bourdieu adalah teman filsafat Louiss
Althusser. Seperti kebanyakan teoritikus kiri, maka konsep Bourdieu ini
menjelaskan tentang mekanisme yang digunakan kelompok elit atau kelas dominan
dalam struktur masyarakat untuk memaksakan ideologi, kebiasaan, atau gaya
hidupnya terhadap masyarakat kelas bawah yang didominasinya. Keseluruhan rangkaian
ini oleh Bourdieu disebut Habitus. Akibatnya,
masyarakat kelas bawah dipaksakan menerima, menjalani, mempraktikkan dan
mengakui bahwa habitus kelas atas-lah yang pantas diakui, sedangkan habitus
kelas bawah sudah sepantasnya dibuang jauh-jauh. Kekerasan simbolik sebenarnya
jauh lebih kuat daripada kekerasan fisik karena kekerasan simbolik melekat
dalam setiap bentuk tindakan, struktur pengetahuan, struktur kesadaran individu
serta memaksakan kekuasaan pada tatanan sosial. Dalam dunia pendidikan, tak
ayal habitus kelas atas dimanifestasikan dalam bentuk simbolik berupa ilustrasi
pada buku panduan belajar. Dalam hal ini menitikberatkan pada buku ajar bagi
siswa SD, disebabkan jenjang SD adalah jenjang sekolah yang masih mudah diakses
oleh siswa dari golongan kelas bawah.
Habitus kelas atas atau superordinat berupa simbol-simbol
yang disosialisasikan dalam jenjang SD yang terdapat dalam buku ajar, secara
eksplisit terdapat dalam ilustrasi-ilustrasi dan narasi di dalamnya. Ilustrasi seperti
gambar rumah, dilengkapi dengan garasi, taman bunga dan dilengkapi oleh
perabotan didalamnya seperti kulkas, vas bunga, televisi, akuarium, dan lukisan
adalah menggambarkan kehidupan masyarakat kelas atas. Dalam hal lain, misalnya
narasi tentang ayah pergi ke kantor, liburan tiap akhir pekan ke kebun
bianatang, perayaan ulang tahun, permainan-permainan berteknologi, tamasya ke
daerah pedesaan menunjukkan ke-glamouran anak kelas atas dengan segala
fasilitas dimiliki oleh kalangan kelas atas. Kondisi ini apabila dibandingkan
dengan kondisi sosial secara umum yang dimiliki masyarakat kelas bawah, tentu
sangat jauh berbeda. Namun hal ini hampir tidak disentuh oleh buku ajar sekolah
dasar. Sebuah rumah sederhana, yang jauh
dari kesan mewah, hampir tidak pernah digambarkan dalam buku ajar. Mengapa selalu
menggambarkan rumah ideal yang dilengkapi oleh ‘garasi? Seberapa pentingkah
garasi sehingga rumah ideal selalu terdapat garasi? Ini adalah sebuah ilustrasi
yang tidak humanis bagi siswa kalangan kelas bawah. Siswa kelas bawah tentu
saja akan mengalami keterasingan atau alienasi (Karl Marx) dengan muatan materi
tersebut. Mereka dipaksa mempelajari kehidupan sosial yang sangat jauh dari
kondisi mereka sehari-hari. Inilah bentuk kekerasan simbolik.
Lalu bagaimana dengan habitus kelas bawah dalam buku ajar?
Habitus kelas bawah tidak mendapat porsi yang sebanding dengan habitus kelas
atas. Hanya sekitar 20 % dari total halaman buku ajar. Habitus kelas bawah,
sebagian besar digambarkan dengan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kalangan
bawah. Pekerjaan tersebut seperti petani, tukang sayur, pedagang keliling,
pemulung, tukang becak, penggembala, nelayan dan tinggal dalam rumah dibantaran
sungai, pemukiman kumuh. Pekerjaan sang anak dalam ilustrasi seperti membantu
ibu berjualan, membantu berdagang, membantu pekerjaan rumah adalah bentuk
habitus kelas bawah yang sangat sedikit jumlahnya dalam buku ajar. Meskipun jumlah
masyarakat kelas bawah sangat dominan, akan tetapi habitus mereka ternyata
mendapat porsi yang sangat sedikit.
Lalu ada apa dibalik pembuatan kurikulum sehingga memuat
ilustrasi dan narasi seperti itu dala buku ajar pendidikan dasar? Apa sebenarnya
tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan kita? Adakah yang memanfaatkan
sekolah sebagai instrumen mempertahankan kelas dan mencapai kepentingan? Apapun
alasannya yang jelas secara kasat mata, menurut paradigma simbolik ini adalah
bentuk kekerasan terhadap kelas bawah. Siswa dari golongan kelas bawah hanya
akan bisa mengandai-andai, merenung dan berharap bisa seperti ilustrasi habitus
kelas atas, kelas dominan. Sedangkan bagi siswa kelas atas, hal tersebut sangat
lumrah karena mereka mengalami secara empirik dalam kehidupan sehari-hari, yang
tanpa perlu diajarkan pun mereka sudah tau. Dalam hal ini terjadi kesenjangan
tajam, ketidakadilan dalam Sekolah Dasar (SD).
Buku ajar seharusnya menyajikan materi yang netral dan seimbang.
Tidak memihak terhadap kedudukan suatu kelas tertentu, sehingga menghindari
bias kelas. Unsur kesimbangan juga merupakan aspek penting karena latarbelakang
sosial ekonomi siswa sangat beragam, terutama siswa SD. Oleh sebab itu, narasi
atau ilustrasi seharusnya mengakomodasi keberagaman latarbelakang tersebut. Bukanlah
sebuah langkah bijaksana apabila menampilkan budaya kelas atas lebih banyak
dalam contoh penyampaian materi pelajaran. Budaya-budaya kelas atas harus
ditampilkan secara proporsional tanpa mendiskriminasikan budaya kelas bawah. Ada
banyak budaya kelas bawah yang patut mendapat apresiasi dibalik kekuarangan
yang dialami masyarakat kelas bawah, seperti hidup sederhana dan hemat. Nilai-nilai
inilah yang dapat dikembangkan dari sebuah cerita mengenai kehidupan masyarakat
kelas bawah sehingga tidak harus diidentikkan dengan kehidupan yang serba
kekurangan, kasar, kotor, dan sebagainya.







