Jumat, 02 November 2018

      Gagasan tentang hegemoni digunakan oleh seorang Marxisme Italia, Antonio Gramsci. Gramsci menjelaskan secara implisit bagaimana sebuah kekuasaan mempertahankan kekuasaannya dengan hegemoni. Hegemoni adalah upaya dominasi posisi dengan menundukkan atau menghancurkan kekuatan orang yang dipimpin. Fungsinya jelas, untuk menurunkan derajat militansi dan menahan arus perlawanan.  Dalam perspektif struktural fungsionalis, konsep ini sangat dibutuhkan untuk menciptakan iklim ketertiban yang dominan. Namun dalam perspektif konflik, hal ini tentu saja akan menghambat sebuah perubahan sosial.
          Dalam hal ini, penulis tertarik untuk membuat variabel tentang hegemoni, terutama dalam dunia kampus. 
        Kampus adalah wahana ideal untuk mengekspresikan kebebasan praxis mahasiswa, wahana pembelajaran untuk mencapai realitas kehidupan yang sesungguhnya, wahana untuk mengaktifkan nalar kritis agar tidak mudah termakan derasnya arus hegemoni yang mencoba mendominasi. Namun terlepas dari kebebasan yang kita miliki sebagai mahasiswa, kita juga harus menaati aturan normatif dan kultur yang ideal dan sesuai untuk diikuti. 
       Namun terkadang pergerakan kita seakan dibatasi, kelas dibuat seperti penjara, dimana ada aparatur ideologis dan aparatur represif didalamnya (Louis Altusser). Bagaimana bisa kampus justru seperti penjara bukan seperti lahan subur yang kita berhak menanami tanaman apapun agar tanah tersebut berguna dan tidak gersang? Kita akan sama-sama menilik permasalahan tersebut.
       Kritis, adalah dengan cara mempertanyakan mengenai aturan-aturan yang ada dikampus. Perhatikan dengan seksama dan cermatilah. Aturan yang ada sungguh sangat mengekang, dan tidak layaknya aturan tersebut diperuntukkan diranah kampus. Contoh kecil dalam hal style berpakaian dan style rambut misalnya. Disana tertera aturan bahwa dilarang memakai celana jeans dan berambut gondrong bagi laki-laki. Mahasiswa diharuskan memakai celana bahan dasar dan berambut rapih. Lalu seberapa pentingkah dan seberapa pengaruhkan aturan tersebut untuk menunjang perkembangan pemikiran dan tindakan mahasiswa? Terbesitkan dalam benak kita masing-masing untuk mempertanyakan kembali aturan yang dibuat tersebut, seberapa urgensinya sehingga hal tersebut sangat diwajibkan. Bahkan tak jarang kampus menggunakan dosen-dosen dalam hal ini aparatus ideologis sekaligus represif. Dengan menanamkan ideologi untuk menjadi mahasiswa yang penurut, patuh dan tidak melawan aturan. Perannya sebagai aparat represif dengan mengancam mahasiswa yang tidak mengikuti aturan tersebut dengan dikeluarkan dari kelas, atau dengan nilai. Kawan-kawanku seperjuangan, tak sadarkah kita sedang dikekang? tak sadarkah kalian nalar kritis kita sedang dipadamkan? Identias kita secara perlahan sedang direnggut sebagai agen kritis dari fenomena sosial. Mahasiswa diseragamkan? Seberapa pentingnya keseragaman style? Pesimistis yang tinggi muncul saat saya ingat bahwa salah satu pekerjaan di dunia ini yang menggunakan pakaian dengan seragam adalah buruh pabrik. Sedangkan kita sama-sama tau bahwa pabrik adalah produksi yang dimiliki oleh orang-orang kapitalis. Kemungkinan terbesar adalah terdapat konspirasi dalam dunia pendidikan dengan kaum kapitalis, agar menciptakan mahasiswa menjadi tenaga-tenaga buruh pabrik mereka yang selalu regenerasi membutuhkan tenaga-tenaga baru, melalui cara seperti demikian, yaitu menyeragamkan pakaian. 
              Dengan rasional yang buta akan hal tersebut pun kita sebenarnya dapat mengkritik aturan itu, dengan menghubungkan antara style dan kecerdasan. Akankah dengan style yang diseragamkan membuat kita cerdas? Sama sekali tidak ada pengaruh apapun antara style dan kecerdasan. 
         Nilai. Nilai selalu menjadi momok yang menakutkan bagi mahasiswa. Dalam hal ini nilai sangat efektif digunakan oleh para dosen-dosen sebagai instrumen hegemoni. Hal semacam ini yang perlu kita sadari bahwa, sebenarnya nilai tidaklah lebih sebagai penghargaan kecerdasan mahasiswa. Kita tidak pernah ditekankan untuk memahami setiap materi, kita justru seolah dimotivasi untuk bagaimana mendapatkan nilai besar. Hal ini menimbulkan disorientasi dalam diri individu mahasiswa untuk mencapai nilai besar dengan cara praktis. Mahasiswa semakin malas untuk memahami materi, karena dengan internet pun dapat dengan mudah mencari jawaban tanpa harus bersusah payah memahami materi. Hal ini tidak dipedulikan oleh dosen, yang terpenting baginya adalah mahasiswa mampu menjawab soal uts dan uas dengan benar. Ini adalah pembodohan besar, dan lagi-lagi kita tidak pernah kritis atau tidak berani untuk kritis saat berada dalam kelas karena nilai. Dengan ketakutan terhadap nilai maka dosen dianggap sebagai kebenaran absolut yang pantang untuk dikritik. Sekali lagi saya tekankan, bahwa ini adalah upaya mematikan nalar kritis.
          Kedua kasus diatas hanya sedikit mewakili hegemonisasi lain yang dilakukan kampus untuk melanggengkan kekuasaan atas mahasiswa agar tidak melakukan perlawanan. Apabila kita tidak berani kritis, maka kampus telah berhasil menciptakan iklim hegemoni.
        Pahamilah apapun realita yang ada disekeliling kita, perbanyak membaca dan mulailah beranikan berpikir dan bertindak kritis agar tidak mudah terhegemonisasi oleh kelas elite yang ingin mendominasi. Pertanyakan kembali tentang realita yang ada, contoh kecil aturan yang kita bahas diatas. Merdekalah secara pemikiran, ekspresikan dengan tindakan demi kemaslahatan. 
     Negara ini membutuhkan mahasiswa yang idealis, yang kritis, dan memiliki gagasan transformatif.
Hidup Mahasiswa!

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Popular Posts