Senin, 03 September 2018

  
   Mahasiswa, ditinjau dari perspektif administratif adalah seseorang yang telah tercantum identitasnya dalam administrasi perguruan tinggi. Sedangkan dari perspektif terminologi, Maha artinya besar, siswa artinya seseorang yang sedang dalam proses menuntut ilmu. Singkatnya, mahasiswa adalah seseorang yang menuntut ilmu dan secara administratif telah terdaftar di perguruan tinggi.
       Tugas utama mahasiswa adalah belajar. Ya, tidak ada tuntutan selain hal itu yang wajib di emban setiap peserta didik dalam jenjang apapun selain belajar. Namun, mekanisme belajar seorang mahasiswa berbeda dengan siswa. Bagi seorang siswa, belajar mungkin hanya cukup dengan mendengarkan penjelasan dari guru, mengerjakan tugas yang diberikan, dan mencari tambahan wawasan lain dengan membaca buku diperpustakaan atau lewat media lain. Konsep pembelajaran siswa di sekolah adalah seperti gaya bank, yaitu para siswa tidak diminta untuk mengerti, tetapi menghapal apa yang diceritakan guru. Siswa tidak berpraktik melakukan pengamatan, oleh karena objek yang menjadi pemahaman adalah milik guru, dan bukan medium yang mengundang refleksi kritis dari guru ataupun siswa.
       Bentuk tersebut berbanding terbalik dengan pembelajaran mahasiswa. Mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dari sudut pandang teoritis, bahkan diminta mengeluarkan tesis. Dosen hanya memberikan wacana terkait dengan matakuliah perbidang masing-masing, selebihnya mahasiswa mencari sendiri bahan diskusi dari wacana yang diberikan tersebut lewat berbagai media seperti buku, jurnal-jurnal, ataupun internet. Namun apakah dengan bentuk pembelajaran tersebut telah mampu mencetak generasi yang kritis transformatif, yang peka dengan keadaan lingkungan sekitar, atau mampu menganalisa segala bentuk permasalahan ekonomi, sosial, politik ataupun budaya? Belum lagi ditambah berbagai macam antropologi kampus, jelaslah amat sulit menjadikan mahasiswa yang kritis dan terpelajar secara pemikiran dan tindakan. Hal tersebut bisa terjadi apabila setiap individu mahasiswa tertanam stigma bahwa dipundaknya-lah terdapat beban berat.
      Mahasiswa adalah agen of change, dimana setiap pemikiran dan tindakannya menganut teori kritis yang digunakan untuk mengamati dan menganalisa segala bentuk problematika baik di dalam kampus atau di luar kampus yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kampus hanyalah instrumen penggiring pemikiran mahasiwa untuk berpikir, menganalisa dan mencoba mencari jalan keluar berbagai problematika lewat keilmuan yang di dapatkannya. Selain dengan perspektif teori kritis, mahasiswa juga harus mempunyai gagasan konstruktif untuk mereduksi segala bentuk problematika di dalam atau di luar kampus. 
     Idealnya begitulah seharusnya menjadi seorang mahasiswa. Bukan lagi menjadi pribadi yang apatis, acuh tak acuh dan mengikuti arus atau termakan zaman. Fokus utamanya adalah melakukan perubahan. Mahasiswa adalah pucuk tombak yang menjadi garda terdepan pembobol ketidakadilan, ketimpangan ataupun penyelewengan. Siapa lagi yang hendak melawan kelaliman birokrasi pemerintahan kalau bukan mahasiswa? Siapa lagi yang mempunyai idealisme tinggi kalau bukan mahasiswa? Siapa lagi yang hendak bahu-membahu membangun sebuah peradaban tanpa kesenjangan kalau bukan mahasiswa? Ini sebagai salah satu tugas mahasiswa, agen of social control.
      Beban tersebutlah yang seharusnya ada di tiap-tiap pundak mahasiswa. Tentunya dengan berbekal intelektual yang tinggi dengan memperkaya wawasan agar tidak salah penerapan, memiliki spiritualitas yang tinggi dengan memperdalam khazanah keagamaan agar memiliki pengendali diri, dan integritas  yang tinggi agar tetap menjaga keutuhan tanpa menimbulkan perpecahan. Itu semua harus ditanamkan dan dimiliki mahasiswa sebelum mengemban amanah besar yaitu sebagai agen of change. Harapan terbesar ada dipundak mahasiswa. Maka sebagai mahasiswa berhentilah berpikir untuk apatis, masa bodoh atau acuh tak acuh. Kepada kalianlah masyarakat, bangsa, dan negara berharap.
       Tegakkanlah idealisme, hilangkan sifat pragmatis, BANGKITLAH MAHASISWA!

1 komentar:

  1. Hidup mahasiswa, andil penuh control sosial dan politik.
    Permasalahan yang lazim ditemui saat ini adalah kurangnya empati terhadap kondisi sosialnya.

    BalasHapus

Total Tayangan Halaman

Popular Posts