Karl
Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. Keluarganya merupakan kalangan kelas
menengah. Kedua orangtuanya berasal dari keturunan rabbi. Rabbi merupakan
gelar seseorang terpelajar, yaitu guru yang menguasai hukum agama Yahudi, atau
seorang yang ditunjuk sebagai pemimpin agama dalam masyarakat. Karena alasan
bisnis, ayahnya kemudian berpindah agama ke Protestan ketika Marx masih sangat
muda. Latar belakang ini menjadi salah satu indikator munculnya pemikiran Marx
tentang agama. Dari Jerman, Marx pindah ke Perancis (1843). Di Perancis ia
bergumul dengan ide-ide Hegel, yang dikemudian hari ia adopsi sebagai basis konstruksi
pemikirannya. Saat itu juga ia bertemu dengan Fredrich Engels yang menjadi
sahabat seumur hidupnya. Setelah Perancis, ia pindah ke Brussel, Belgia (1845).
Radikalismenya yang sedang menggebu-gebu melibatkan dirinya menjadi anggota
aktif gerakan revolusioner internasional. Dalam hubungannya dengan Liga
Komunis, Marx bersama Engels menulis Communist
Manifesto (1848). Marx kemudian pindah ke London (Inggris) pada 1849 dan
menulis karya yang terkenal “Das Capital”
yang memiliki tiga volume. Das Capital
merupakan karya ilmiah terbesar Marx yang menjelaskan tentang struktur dan
kondisi kerja di dalam kapitalisme. Berikut adalah uraian singkat pemikiran
sosiologi Karl Marx.
Pertama
adalah teori konflik sosial. Konflik sosial terjadi karena adanya
kontradiksi atau pertentangan kelas antara kelas pemilik modal, penguasa
alat-alat poduksi (borjuis) dan kelas buruh, pekerja (proletar). Dalam struktur
masyarakat kapitalis, kaum borjuis dengan semena-mena melakukan eksploitasi
terhadap kaum proletar. Eksploitasi ini yang kemudian mengakibatkan kaum
proletar mengalami sebuah alienasi
atau keterasingan akibat penindasan. Keterasingan yang dimaksud adalah
keterasingan dari dirinya sendiri sebagai manusia. Hubungan dan sistem kerja
yang eksploitatif membuat manusia layaknya seperti hewan. Manusia kehilangan
daya produktifitasnya. Sehingga dalam satu waktu, manusia-manusia tertindas yang
terhimpun dalam massa dengan kesadaran kolektif akan melakukan pemberontakan
melawan kapitalisme dan segala strukturnya yang menindas.
Keterasingan
sendiri dilegitimasi oleh agama. Manusia akhirnya hanya memasrahkan diri kepada
Tuhan atas realitas yang menindas tersebut. Padahal menurut Marx, manusia bisa
melakukan eksplorasi diri dalam rangka mengaktualisasikan apa yang menjadi
keinginannya daripada hanya pasrah terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak bisa
merubah apa-apa. Agama dengan doktrin kepasrahannya, menawarkan sebuah
kesenangan sesaat dengan imbalan berupa pahala dan surge apabila orang-orang
tertindas menghadapi penindasan tersebut dengan kesabara. Itu sama sekali tidak
merubah struktur sosial yang menindas. Maka dalam hal ini, agama menjadi alat
legitimasi penindasan oleh masyarakat kelas atas dan sebuah kompensasi atas
ketertindasan yang dialami oleh masyarakat kelas atas. Ini yang disebut Marx
bahwa agama sebagai candu masyarakat.
Selanjutnya
adalah tentang teori revolusi sosial. Revolusi sosial adalah perubahan sosial
yang cepat pada tatanan masyarakat. Anggapan Marx dalam masalah penindasan yang
di urai diatas adalah perubahan-perubahan di dalam sistem yang tidak mencukupi.
Sistem sendiri harus diubah. Emansipasi manusia secara prisipil akan terwujud
melalui penjungkirbalikan seluruh struktur-struktur sosial. Keadaan yang buruk,
kenyataan keterasingan, tidak berakar dalam kejahatan individual, melainkan
dalam struktur sistem masyarakat kapitalis. Marx mendobrak paksaan sistem. Siapa
yang ingin sungguh-sungguh terlibat dalam penghapusan ketidakadilan dan
penindasan, yang ingin membangun dunia dengan manusiwi dan adil, tidak boleh
puas dengan tindakan tambal sulam, melainkan harus meruntuhkan sistem sendiri
yang struktur-strukturnya mendasari keadaan buruk tersebut. Revolusi yang tak
terelakkan akan menghasilkan suatu tatanan baru, tatanan dimana tak ada hak
milik pribadi atas alat-alat produksi, kemudian berubah menjadi kepemilikan bersama.
Ini yang disebut Marx sebagai masyarakat komunis.

Bung,Setelah melihat kondisi dewasa ini dan setelah membaca tulisan ini, saya semakin yakin bahwa kemiskinan adalah kondisi struktural yang memang diciptakan dan diatur oleh segelintir orang.
BalasHapus