Mencoba memaknai ulang ungkapan Rene Descarts, cogito ergo sum yaitu aku berpikir maka aku ada. Ungkapan Descarts tersebut bermakna bahwa ukuran eksistensi atau keberadaan manusia terletak pada daya gunanya dalam menggunakan akal pikiran. Semakin akal pikiran digunakan dengan maksimal, maka semakin menentukan keberadaan diri seorang manusia.
Namun dalam hal ini pengunaan ungkapan tersebut untuk konteks yang berbeda. Dengan bersama-sama melihat fenomena yang belum lama terjadi di Palu, Sulawesi Utara maka perlu memaknai ulang ungkapan Descart tersebut untuk menjadi landasan ilmiah sebuah gerakan dan sedikit mengubah redaksi, menjadi "aku bergerak maka aku ada".
Seorang filsuf seperti Descarts mengukur keberadaan manusia dengan daya guna terhadap akal pikirannya, maka saya disini saya akan mengukur keberadaan manusia dengan daya guna terhadap geraknya. Maka, semakin optimal seorang menggunakan tubuhnya untuk bergerak, maka akan semakin diakui keberadaanya sebagai manusia. Analogi sederhananya seperti seseorang yang aktif dan seseorang yang pasif. Sudah dapat disimpulkan secara universal orang-orang disekelilingnya akan lebih menganggap keberadaan si Aktif karena keaktifannya dalam bergerak terlebih apa yang dilakukannya mengandung nilai kebaikan. Berbeda dengan seseorang yang pasif. Dengan hanya banyak berdiam diri, tidak benyak melakukan sesuatu atau malas, maka keberadaannya sebagai manusia akan tidak dianggap ada oleh orang-orang disekelilingnya.
Maka dari penjelasan tersebut, jelaslah ukuran keberadaan manusia dalam konteks ini adalah dengan bergerak. Semakin banyak manusia bergerak, maka ia akan semakin sadar dan yakin bahwa realitas dirinya adalah ada. Keberadaannya akan semakin menjadi terasa ada, apabila manusia lain mengakuinya karena merasakan keberadaannya lewat geraknya yang tidak terlepas dari nilai-nilai manfaat bagi yang lain. Maka ketika ukuran keberadaan manusia dinilai dari geraknya, sudah sepatutnya kita bergerak sebagai manusia untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi yang lain, untuk membuktikan dalam dirinya sendiri bahwa dia sebagai manusia adalah ada dan oranglain ikut merasakan keberadaanya lewat geraknya yang bermanfaat, dalam hal ini menyangkut gerakan solidaritas membantu korban bencana alam di Palu. Ketika anda sebagai manusia memilih untuk diam dan tidak bergerak melakukan gerakan yang mengandung nilai-nilai manfaat bagi sesama, maka anda sebagai manusia tidak akan merasakan keberadaan anda dan dianggap tidak ada. Untuk itu, bergeraklah agar dalam realitas anda meyakini bahwa anda benar-benar ada, dan oranglain mengakui keberadaan anda lewat manfaat yang mereka rasakan.
Aku Bergerak maka Aku Ada
Gerakan Solidaritas untuk Palu






