Siapa tak kenal Soekarno. Sosok kharismatik dan energik
ini adalah Presiden pertama Republik Indonesia. Keberaniannya menentang
Belanda, lewat gagasan konsep dan agitasipropagandanya (pidato) mampu
menghipnotis masyarakat Indonesia untuk terus semangat menentang penjajahan
kolonial. Namanya diperhitungkan dunia Internasional. Beliau juga yang
membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, bersama Muh.Hatta.
Sebagai pemimpin negara, Soekarno terkenal dengan
pidatonya yang berapi-api. Konon katanya, tidak ada orang yang tidak terkesima
dengan pidatonya. Ia dijuluki sebagai Singa
Podium. Konstruksi pemikirannya diawali oleh konsep Marxis, karena memang
tak ada lagi konsep pembebasan selain konsep Marxis, sesuai dengan keadaan bangsa
Indonesia yang sedang dijajah oleh Belanda kala itu. Selain penganut Marxis,
Soekarno juga adalah seorang nasionalis sejati. Kecintaannya terhadap bangsa
Indonesia dan keinginan kuatnya untuk menghapuskan segala bentuk penjajahan
dari imperalisme kolonial membuatnya tak pernah berhenti berdiplomasi dan
menyerukan persatuan di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam menentang
penjajah.
Dipertengahan kepemimpinannya, terjadi pertikaian hebat
antara Partai PKI, PNI, dan MASYUMI. Maka untuk mempertahankan keutuhan dan
persatuan, Soekarno menciptakan suatu gagasan yang dinamakan NASAKOM atau Nasionalis, Agama, Komunis. Nasakom
diciptakan untuk menciptakan keutuhan dari keberagman partai yang ada saat itu,
bahwa semua itu sama jika ditinjau dari makna filosofis, sehingga cukuplah
semua untuk berseteru, tapi bersama-sama menggandeng tangan menjaga persatuan
dan menciptakan perubahan untuk Indonesia. Ego primordialis harus dihilangkan,
karena akan menghancurkan negeri sendiri, Indonesia.
Makna filosofis yang terkandung dari gagasan Soekarno
itulah yang seharusnya kita interprestasikan dalam berorganisasi. Terdapat berbagai
macam organisasi yang ada didalam kampus. Tujuan organisasi adalah mencetak
kader-kader kritis dan memiliki gagasan transformatif serta militan dalam
menjaga persatuan juga sebagai agen perubahan bagi masyarakat.
Namun terkadang egosentris organisasi menutupi cahaya
tujuan dari masing-masing anggota organisasi. Tidak ada lagi makna persatuan
antar organisasi, terlihat dari klaim-klaim yang menyatakan organisasinya-lah
yang paling benar. Hal ini menimbulkan rasa kebencian dan memicu konflik karena
perasaan egosentris yang tinggi tersebut. Sehingga hal ini berbuntut pada
konflik berupa adu fisik yang hal itu jauh dari makna persatuan. Sering diperbincangkan
tentang pluralisme dalam kajian organisasi, namun semua itu berhenti karena
kepentingan dan tidak sampai pada pengimplementasian.
Seharusnya dalam diri masing-masing anggota antar
organisasi tertanam jiwa toleran yang tinggi. Sadarilah bahwa tugas kita adalah
mengamalkan ideologi masing-masing, tanpa mengklaim bahwa ideologinya paling
benar. Kesadaran tersebut yang akan meminimalisir atau meniadakan keadaan yang tidak diinginkan. Tujuan dari
organisasi adalah sebagai salah satu instrumen kontrol sosial. Lewat organisasi
maka akan mudah mengakomodasi mahasiswa untuk menjadi agen kontrol sosial. Tapi
lagi-lagi kita selalu diributkan oleh kekuasaan, kekuasaan yang bahkan
terkadang melalaikan tugas utama kita sebagai kontrol sosial. Seharusnya kita
fokus mengadvokasi menyelesaikan problematika masyarakat dengan gagasan yang kita dapatkan dalam perkuliahan, justru malah ribut
perihal tentang kekuasaan, di zona kampus konkritnya. Musuh utama kita
seharusnya adalah birokrasi pemerintahan yang zolim, bukan organisasi diluar
kita. Idealnya kita bersama-sama militan terhadap negara dan masyarakat, tapi
kita malah militan terhadap kepragmatisan organisasi yang menimbulkan fanatik
buta, memicu perpecahan antarorganisasi.
Sebagaimana konsep ideal Soekarno tentang nasakom yang
berusaha meminimalisir pertikaian, maka kita wajib menginterprestasikan makna
filosofisnya kedalam jiwa kita masing-masing sebagai insan organisasi. Sadarilah
bahwa fokus utama kita sebagai kontrol sosial dan membawa perubahan bagi
masyarakat. Masyarakat sangat membutuhkan agen transformasi untuk
memperbaharui tatanan sosial. Siapa lagi yang akan bergerak kalau bukan
mahasiswa, kaum intelektual yang kritis. Lalu apa jadinya jika kita justru malah berbenturan karena perbedaan organisasi?
Semoga keresahan yang saya alami pun dialami oleh
sahabat-sahabat aktivis organisasi, sehingga bersama-sama merefleksikan dalam
diri masing-masing bahwa kita harus militan terhadap negara, terhadap tugas
pokok kita sebagai agen kontrol sosial, pembawa perubahan bagi masyarakat,
bukan militan terhadap kepentingan
pragmatis organisasi yang dapat menyulut api perpecahan antarorganisasi. Untuk melaksanakan
tugas tersebut kita harus saling sinergi dengan organisasi diluar kita, bukan
malah saling bertikai dan berebut pengaruh dan kekuasaan karena kepragmatisan yang menyebabkan kehancuran diri dan organisasi kita sendiri, terlebih parah menjauhkan dari tugas pokok kita sebagai mahasiswa, yaitu kontrol sosial.
Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa!

