Sabtu, 24 November 2018

Siapa tak kenal Soekarno. Sosok kharismatik dan energik ini adalah Presiden pertama Republik Indonesia. Keberaniannya menentang Belanda, lewat gagasan konsep dan agitasipropagandanya (pidato) mampu menghipnotis masyarakat Indonesia untuk terus semangat menentang penjajahan kolonial. Namanya diperhitungkan dunia Internasional. Beliau juga yang membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, bersama Muh.Hatta.
Sebagai pemimpin negara, Soekarno terkenal dengan pidatonya yang berapi-api. Konon katanya, tidak ada orang yang tidak terkesima dengan pidatonya. Ia dijuluki sebagai Singa Podium. Konstruksi pemikirannya diawali oleh konsep Marxis, karena memang tak ada lagi konsep pembebasan selain konsep Marxis, sesuai dengan keadaan bangsa Indonesia yang sedang dijajah oleh Belanda kala itu. Selain penganut Marxis, Soekarno juga adalah seorang nasionalis sejati. Kecintaannya terhadap bangsa Indonesia dan keinginan kuatnya untuk menghapuskan segala bentuk penjajahan dari imperalisme kolonial membuatnya tak pernah berhenti berdiplomasi dan menyerukan persatuan di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam menentang penjajah.
Dipertengahan kepemimpinannya, terjadi pertikaian hebat antara Partai PKI, PNI, dan MASYUMI. Maka untuk mempertahankan keutuhan dan persatuan, Soekarno menciptakan suatu gagasan yang dinamakan NASAKOM atau Nasionalis, Agama, Komunis. Nasakom diciptakan untuk menciptakan keutuhan dari keberagman partai yang ada saat itu, bahwa semua itu sama jika ditinjau dari makna filosofis, sehingga cukuplah semua untuk berseteru, tapi bersama-sama menggandeng tangan menjaga persatuan dan menciptakan perubahan untuk Indonesia. Ego primordialis harus dihilangkan, karena akan menghancurkan negeri sendiri, Indonesia.
Makna filosofis yang terkandung dari gagasan Soekarno itulah yang seharusnya kita interprestasikan dalam berorganisasi. Terdapat berbagai macam organisasi yang ada didalam kampus. Tujuan organisasi adalah mencetak kader-kader kritis dan memiliki gagasan transformatif serta militan dalam menjaga persatuan juga sebagai agen perubahan bagi masyarakat.
Namun terkadang egosentris organisasi menutupi cahaya tujuan dari masing-masing anggota organisasi. Tidak ada lagi makna persatuan antar organisasi, terlihat dari klaim-klaim yang menyatakan organisasinya-lah yang paling benar. Hal ini menimbulkan rasa kebencian dan memicu konflik karena perasaan egosentris yang tinggi tersebut. Sehingga hal ini berbuntut pada konflik berupa adu fisik yang hal itu jauh dari makna persatuan. Sering diperbincangkan tentang pluralisme dalam kajian organisasi, namun semua itu berhenti karena kepentingan dan tidak sampai pada pengimplementasian.
Seharusnya dalam diri masing-masing anggota antar organisasi tertanam jiwa toleran yang tinggi. Sadarilah bahwa tugas kita adalah mengamalkan ideologi masing-masing, tanpa mengklaim bahwa ideologinya paling benar. Kesadaran tersebut yang akan meminimalisir atau meniadakan  keadaan yang tidak diinginkan. Tujuan dari organisasi adalah sebagai salah satu instrumen kontrol sosial. Lewat organisasi maka akan mudah mengakomodasi mahasiswa untuk menjadi agen kontrol sosial. Tapi lagi-lagi kita selalu diributkan oleh kekuasaan, kekuasaan yang bahkan terkadang melalaikan tugas utama kita sebagai kontrol sosial. Seharusnya kita fokus mengadvokasi menyelesaikan problematika masyarakat dengan gagasan yang kita dapatkan dalam perkuliahan, justru malah ribut perihal tentang kekuasaan, di zona kampus konkritnya. Musuh utama kita seharusnya adalah birokrasi pemerintahan yang zolim, bukan organisasi diluar kita. Idealnya kita bersama-sama militan terhadap negara dan masyarakat, tapi kita malah militan terhadap kepragmatisan organisasi yang menimbulkan fanatik buta, memicu perpecahan antarorganisasi.
Sebagaimana konsep ideal Soekarno tentang nasakom yang berusaha meminimalisir pertikaian, maka kita wajib menginterprestasikan makna filosofisnya kedalam jiwa kita masing-masing sebagai insan organisasi. Sadarilah bahwa fokus utama kita sebagai kontrol sosial dan membawa perubahan bagi masyarakat. Masyarakat sangat membutuhkan agen transformasi untuk memperbaharui tatanan sosial. Siapa lagi yang akan bergerak kalau bukan mahasiswa, kaum intelektual yang kritis. Lalu apa jadinya jika kita justru malah berbenturan karena perbedaan organisasi?
Semoga keresahan yang saya alami pun dialami oleh sahabat-sahabat aktivis organisasi, sehingga bersama-sama merefleksikan dalam diri masing-masing bahwa kita harus militan terhadap negara, terhadap tugas pokok kita sebagai agen kontrol sosial, pembawa perubahan bagi masyarakat, bukan militan  terhadap kepentingan pragmatis organisasi yang dapat menyulut api perpecahan antarorganisasi. Untuk melaksanakan tugas tersebut kita harus saling sinergi dengan organisasi diluar kita, bukan malah saling bertikai dan berebut pengaruh dan kekuasaan karena kepragmatisan yang menyebabkan kehancuran diri dan organisasi kita sendiri, terlebih parah menjauhkan dari tugas pokok kita sebagai mahasiswa, yaitu kontrol sosial.
Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa!



Rabu, 07 November 2018


Istilah demokrasi sudah sangat tidak asing ditelinga kita, terutama mahasiswa. Aktivis mahasiswa sering menggaung-gaungkan demokrasi, memperjuangkan dan menuntut demokrasi. Demokrasi dianggap suatu sistem politik yang paling ideal karena mendahulukan kepentingan rakyat.
Apa itu demokrasi? Demkorasi merupakan salah satu langgam pemerintahan  yang banyak digunakan oleh negara-negara di dunia. Demokrasi adalah lawan dari otokrasi, tirani, dan oligarki. Demokrasi adalah pemerintahan yang dijalankan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (Lincoln). Kenapa kemudian negara Indonesia menganut demokrasi? Ataukah Indonesia hanya mengikuti Barat semata? Apa pengaruh demokrasi bagi kehidupan rakyat? Akankah membawa kemakmuran?
Meninjau ulang sejarah lahirnya demokrasi merupakan langkah awal untuk mengetahui konsep demokrasi. Pada awalnya di Eropa, terutama Perancis adalah kekuasaan otokrasi. Raja yang memerintah diperkuat kedudukannya oleh kaum ningrat dan kaum agama. Kaum ningrat adalah kaum bangsawan, kaum terdekat kerajaan, yang hidup serba kemewahan. Sedangkan kaum agama adalah kaum gereja, yang melegitimasi posisi Raja sebagai kekuasaan absolut. Sehingga muncul istilah kala itu, “Raja adalah wakil Tuhan di Bumi, suara Raja suara Tuhan”. Hal ini mengakibatkan secara terpaksa rakyat harus mengikuti kemauan Raja, bahkan tidak jarang hak-hak kemanusiaan rakyat direnggut dan diperas.
Salah satu golongan kuat yang merasa teraniaya oleh kekuasaan otokrasi kerajaan adalah golongan pedagang atau borjuis. Kekuasaan absolut kerajaan seringkali merugikan perniagaan mereka. Oleh karena mereka termasuk golongan yang kuat dalam bidang ekonomi, dan tidak ingin lagi ada regulasi kerajaan yang merugikan mereka, maka mereka menyusun strategi untuk menggulingkan kekuasaan raja.  Karena rakyat mengalami penindasan dan kesewenang-wenangan oleh raja, maka mereka memanfaatkan rakyat yang dijadikan massa aksi dalam revolusi kaum pedagang dan pengusaha tersebut atas dasar persamaan nasib. Rakyat tidak sadar bahwa ia telah dijadikan kaum borjuis sebagai instrument pencapai kepentingan mereka.
…begitulah keadaan rakyat yang oleh kaum borjuis pedagang diajak bergerak, dirabunkan matanya, bahwa pergerakannya akan mendatangkan kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan, “Liberte, fraternite, egalite”, adalah propaganda yang dipakai kaum borjuis untuk mengagitasi rakyat (Soekarno; FikiranRa’jat1932)
Revolusi berakhir dan kaum borjuis yang menang bersama rakyat. Akhirnya mereka mengganti sistem kerajaan menjadi republik, dan cara pemerintahan baru, dari otokrasi menjadi demokrasi. Selanjutnya dibentuklah parlemen untuk mengirim wakil-wakil rakyat, sebagai penyambung lidah rakyat. Demokrasi inilah yang akhirnya berkembang dan digunakan oleh semua negara di Eropa, juga Amerika.
Lalu apakah cukup hanya dengan demokrasi politik saja untuk menjamin kesejahteraan rakyat? Salah satu penggagas demokrasi adalah kaum borjuis, yang sudah kita sama-sama tau bahwa proyeksi pemikirannya adalah kapital (modal). Maka tiada lain kepentingan mereka menegakkan dan mempertahankan demokrasi selain karena keuntungan, kapitalisme merajalela di dalam demokrasi, dan rakyat jadi korbannya! Kita sebagai salah satu pengnaut demokrasi tidak boleh mengagung-agungkan demokrasi yang demikian itu. Kita jangan silau melihat kemajuan bangsa Barat, kita harus sadar bahwa itu adalah hasil kapitalisme, yang mengorbankan rakyat sebagai buruh yang nasibnya tertindas. Ini merupakan warisan sejarah revolusi di Eropa yang kita singgung sedikit diatas.
Wakil-wakil rakyat yang duduk di parlemen adalah agen-agen borjuis untuk melindungi perniagaan mereka. Sampai saat ini kita jarang bahkan hampir tidak merasakan perubahan apapun walaupun demokrasi politik telah silih berganti. Celakalah kita! Kita makin tertindas dengan demokrasi yang kita idam-idamkan selama ini!
Maka kita sebagai mahasiswa, perlu menyadari sepenuhnya bahwa demokrasi yang ideal adalah demokrasi yang menyelamatkan nasib rakyat, untuk kepentingan rakyat, berdiri ditengah-tengah rakyat. Demokrasi sosialisme, bukan demokrasi kapitalisme, yang hanya menguntungkan sebagian kecil golongan saja. Kontradiktif kepentingan kaum borjuis inilah maka kita harus menghidupkan demokrasi sosialisme. Langkah pertama adalah dengan mengimplementasikannya didalam kehidupan politik kampus. Dimana segolongan elite yang duduk di kursi birokrasi internal kampus harus mewakili kepentingan seluruh mahasiswa kampus, bukan hanya segolongan mahasiswa saja. Garis-garis demokrasi sosialisme harus digunakan sebagai praxis tindakan birokrat kampus, harus digunakan!
Hiduplah demokrasi sosialisme!
Hidup Mahasiswa!


Minggu, 04 November 2018

       Arus modernisasi yang begitu hebat bak gelombang tsunami besar yang hendak menyapu daratan, apabila tidak terdapat tembok yang kokoh untuk menghalangi gelombang tsunami tersebut hancur luluh-lah seluruh daratan disekitarnya. Modernisasi menimbulkan dampak yang amat besar terhadap kehidupan manusia, terutama dalam bidang produksi. Dimana proses produksi yang terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Disisi lain, produksi yang berlebihan oleh negara maju  akan menjadikan negara terbelakang atau berkembang menjadi sasaran distribusi. Negara maju yang sebagian besar penganut kapitalisme, akan selalu mencari cara untuk menambah modal untuk memperkaya korporasi atau individu. Salah satu caranya adalah dengan menggenjot besar-besaran proses produksi dan melakukan impor produksi ke negara-negara dibawahnya. Modernisasi yang membuat dunia seolah tanpa teritorial lagi, membuat mereka leluasa untuk mencari kawasan sasaran distribusi. Melalui agenda perdagangan bebas sebagai alibi mereka untuk mengeksplorasi hasil produksi negara terbelakang, padahal dibalik itu mereka menginginkan perdagangan bebas untuk leluasa menjual barang produksi mereka.
           Masyarakat di negara-negara terbelakang, yang sedang berjuang mati-matian membangkitkan pertumbuhan ekonomi, tidak sadar bahwa tangan-tangan kapitalis telah masuk ke teritori mereka. Karena perdagangan bebas maka produk mereka dengan mudah beredar luas ditengah-tengah masyarakat. Harga yang terjangkau dan kualitas yang baik menunjang percepatan distribusi produksi negara-negara maju. Negara-negara terbelakang yang masih kesulitan bangkit dari perekonomian merasa mendapatkan pertolongan oleh dewi fortuna. Maka mereka dengan berbondong-bondong membeli produk asing, tanpa memikirkan dampak panjang yang justru membuat perekonomian domestik menjadi terpuruk akibat penurunan daya beli masyarakat.
              Maka oleh karena itu, kita mahasiswa sebagai kaum radikal, kaum yang mengetahui tiap-tiap kejahatan kapitalisme, janganlah mudah terbawa hanyut oleh derasnya produk asing yang murah-murah tersebut. Itu hanyalah usaha mereka untuk menguasai perekonomian negeri kita. Dampaknya amatlah jelas, yakni akan menenggelamkan produk domestik dalam negeri kita. Kita harus menerima produk mereka dengan penerimaan revolusioner (Marx), inilah yang dinamakan "proletaris historis" oleh Liebknecht, yakni tetap memakai tanpa ketergantungan produk kapitalisme, tetap mempersetankan kapitalisme, tetap megutuk kapitalisme, tetap memakai dan mempropagandakan produk domestik untuk membinasakan produk kapitalisme!
           Terimalah keadaan demikian sekarang, terima tapi dengan revolusioner. Belilah produk mereka yang murah untuk meringankan beban yang sengsara, tapi teruslah dengan hasrat radikal, tetap memproteksi semangat dalam hati untuk menggugurkan kapitalisme di bumi Nusantara, Indonesia. 


Jumat, 02 November 2018

      Gagasan tentang hegemoni digunakan oleh seorang Marxisme Italia, Antonio Gramsci. Gramsci menjelaskan secara implisit bagaimana sebuah kekuasaan mempertahankan kekuasaannya dengan hegemoni. Hegemoni adalah upaya dominasi posisi dengan menundukkan atau menghancurkan kekuatan orang yang dipimpin. Fungsinya jelas, untuk menurunkan derajat militansi dan menahan arus perlawanan.  Dalam perspektif struktural fungsionalis, konsep ini sangat dibutuhkan untuk menciptakan iklim ketertiban yang dominan. Namun dalam perspektif konflik, hal ini tentu saja akan menghambat sebuah perubahan sosial.
          Dalam hal ini, penulis tertarik untuk membuat variabel tentang hegemoni, terutama dalam dunia kampus. 
        Kampus adalah wahana ideal untuk mengekspresikan kebebasan praxis mahasiswa, wahana pembelajaran untuk mencapai realitas kehidupan yang sesungguhnya, wahana untuk mengaktifkan nalar kritis agar tidak mudah termakan derasnya arus hegemoni yang mencoba mendominasi. Namun terlepas dari kebebasan yang kita miliki sebagai mahasiswa, kita juga harus menaati aturan normatif dan kultur yang ideal dan sesuai untuk diikuti. 
       Namun terkadang pergerakan kita seakan dibatasi, kelas dibuat seperti penjara, dimana ada aparatur ideologis dan aparatur represif didalamnya (Louis Altusser). Bagaimana bisa kampus justru seperti penjara bukan seperti lahan subur yang kita berhak menanami tanaman apapun agar tanah tersebut berguna dan tidak gersang? Kita akan sama-sama menilik permasalahan tersebut.
       Kritis, adalah dengan cara mempertanyakan mengenai aturan-aturan yang ada dikampus. Perhatikan dengan seksama dan cermatilah. Aturan yang ada sungguh sangat mengekang, dan tidak layaknya aturan tersebut diperuntukkan diranah kampus. Contoh kecil dalam hal style berpakaian dan style rambut misalnya. Disana tertera aturan bahwa dilarang memakai celana jeans dan berambut gondrong bagi laki-laki. Mahasiswa diharuskan memakai celana bahan dasar dan berambut rapih. Lalu seberapa pentingkah dan seberapa pengaruhkan aturan tersebut untuk menunjang perkembangan pemikiran dan tindakan mahasiswa? Terbesitkan dalam benak kita masing-masing untuk mempertanyakan kembali aturan yang dibuat tersebut, seberapa urgensinya sehingga hal tersebut sangat diwajibkan. Bahkan tak jarang kampus menggunakan dosen-dosen dalam hal ini aparatus ideologis sekaligus represif. Dengan menanamkan ideologi untuk menjadi mahasiswa yang penurut, patuh dan tidak melawan aturan. Perannya sebagai aparat represif dengan mengancam mahasiswa yang tidak mengikuti aturan tersebut dengan dikeluarkan dari kelas, atau dengan nilai. Kawan-kawanku seperjuangan, tak sadarkah kita sedang dikekang? tak sadarkah kalian nalar kritis kita sedang dipadamkan? Identias kita secara perlahan sedang direnggut sebagai agen kritis dari fenomena sosial. Mahasiswa diseragamkan? Seberapa pentingnya keseragaman style? Pesimistis yang tinggi muncul saat saya ingat bahwa salah satu pekerjaan di dunia ini yang menggunakan pakaian dengan seragam adalah buruh pabrik. Sedangkan kita sama-sama tau bahwa pabrik adalah produksi yang dimiliki oleh orang-orang kapitalis. Kemungkinan terbesar adalah terdapat konspirasi dalam dunia pendidikan dengan kaum kapitalis, agar menciptakan mahasiswa menjadi tenaga-tenaga buruh pabrik mereka yang selalu regenerasi membutuhkan tenaga-tenaga baru, melalui cara seperti demikian, yaitu menyeragamkan pakaian. 
              Dengan rasional yang buta akan hal tersebut pun kita sebenarnya dapat mengkritik aturan itu, dengan menghubungkan antara style dan kecerdasan. Akankah dengan style yang diseragamkan membuat kita cerdas? Sama sekali tidak ada pengaruh apapun antara style dan kecerdasan. 
         Nilai. Nilai selalu menjadi momok yang menakutkan bagi mahasiswa. Dalam hal ini nilai sangat efektif digunakan oleh para dosen-dosen sebagai instrumen hegemoni. Hal semacam ini yang perlu kita sadari bahwa, sebenarnya nilai tidaklah lebih sebagai penghargaan kecerdasan mahasiswa. Kita tidak pernah ditekankan untuk memahami setiap materi, kita justru seolah dimotivasi untuk bagaimana mendapatkan nilai besar. Hal ini menimbulkan disorientasi dalam diri individu mahasiswa untuk mencapai nilai besar dengan cara praktis. Mahasiswa semakin malas untuk memahami materi, karena dengan internet pun dapat dengan mudah mencari jawaban tanpa harus bersusah payah memahami materi. Hal ini tidak dipedulikan oleh dosen, yang terpenting baginya adalah mahasiswa mampu menjawab soal uts dan uas dengan benar. Ini adalah pembodohan besar, dan lagi-lagi kita tidak pernah kritis atau tidak berani untuk kritis saat berada dalam kelas karena nilai. Dengan ketakutan terhadap nilai maka dosen dianggap sebagai kebenaran absolut yang pantang untuk dikritik. Sekali lagi saya tekankan, bahwa ini adalah upaya mematikan nalar kritis.
          Kedua kasus diatas hanya sedikit mewakili hegemonisasi lain yang dilakukan kampus untuk melanggengkan kekuasaan atas mahasiswa agar tidak melakukan perlawanan. Apabila kita tidak berani kritis, maka kampus telah berhasil menciptakan iklim hegemoni.
        Pahamilah apapun realita yang ada disekeliling kita, perbanyak membaca dan mulailah beranikan berpikir dan bertindak kritis agar tidak mudah terhegemonisasi oleh kelas elite yang ingin mendominasi. Pertanyakan kembali tentang realita yang ada, contoh kecil aturan yang kita bahas diatas. Merdekalah secara pemikiran, ekspresikan dengan tindakan demi kemaslahatan. 
     Negara ini membutuhkan mahasiswa yang idealis, yang kritis, dan memiliki gagasan transformatif.
Hidup Mahasiswa!

Total Tayangan Halaman

Popular Posts