Selasa, 04 Desember 2018


Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan individu dan masyarakat untuk mentransmisikan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan dan bentuk ideal kehidupan kepada generasi muda untuk membantu mereka dalam meneruskan aktivitas kehidupan secara efektif dan berhasil.  Pendidikan juga pada hakikatnya dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengubah perilaku individu, ke arah yang lebih baik. Proses pendidikan itu sendiri menurut Freire (2002) dimaknai sebuah proses untuk membentuk manusia seutuhnya atau proses memanusiakan manusia (humanisasi). Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membangun kesadaran kritis peserta didik. Pendidikan juga memiliki tanggungjawab menumbuhkan rasa empati dan simpati peserta didik terhadap lingkungan sosial masyarakat. Dalam diskursus kali ini, pendidikan dititikberatkan pada Sekolah Dasar (SD). Pertanyaan paling mendasar adalah, ada apa dengan Pendidikan Sekolah Dasar?
Sekolah adalah basis utama pendidikan.  Lewat lembaga sekolah maka nilai-nilai dan norma ditransmisikan kepada peserta didik. Namun kita tak pernah tau dan sadar, akan apa yang ada dibalik transmisi nilai tersebut. Ada kekerasan dibalik proses transmisi tersebut. Mungkin tak asing bagi kita mendengar kata kekerasan dalam dunia pendidikan, secara implisit itu adalah kekerasan fisik. Misalnya kekerasan fisik seperti guru menjewer muridnya, mencubit, memukul dengan penggaris, tawuran antarpelajar dan sebagainya. Namun, banyak dari kita tak menyadari akan bentuk kekerasan lain, yaitu kekerasan simbolik. Entah bagaimana datangnya dan seperti tidak dihiraukan keberadaannya, tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah telah melakukan tindakan kekerasan simbolik tersebut. Kekerasan simbolik memang tak terlihat wujudnya secara kasat mata, namun sebenarnya amat mudah untuk diamati. Ia sebenarnya ada dimana-mana, dalam dunia pendidikan.  Konsep kekerasan simbolik dikemukakan oleh Pierre Bourdieu, sosiolog pendidikan asal Prancis. Bourdieu adalah teman filsafat Louiss Althusser. Seperti kebanyakan teoritikus kiri, maka konsep Bourdieu ini menjelaskan tentang mekanisme yang digunakan kelompok elit atau kelas dominan dalam struktur masyarakat untuk memaksakan ideologi, kebiasaan, atau gaya hidupnya terhadap masyarakat kelas bawah yang didominasinya. Keseluruhan rangkaian ini oleh Bourdieu disebut Habitus. Akibatnya, masyarakat kelas bawah dipaksakan menerima, menjalani, mempraktikkan dan mengakui bahwa habitus kelas atas-lah yang pantas diakui, sedangkan habitus kelas bawah sudah sepantasnya dibuang jauh-jauh. Kekerasan simbolik sebenarnya jauh lebih kuat daripada kekerasan fisik karena kekerasan simbolik melekat dalam setiap bentuk tindakan, struktur pengetahuan, struktur kesadaran individu serta memaksakan kekuasaan pada tatanan sosial. Dalam dunia pendidikan, tak ayal habitus kelas atas dimanifestasikan dalam bentuk simbolik berupa ilustrasi pada buku panduan belajar. Dalam hal ini menitikberatkan pada buku ajar bagi siswa SD, disebabkan jenjang SD adalah jenjang sekolah yang masih mudah diakses oleh siswa dari golongan kelas bawah.
Habitus kelas atas atau superordinat berupa simbol-simbol yang disosialisasikan dalam jenjang SD yang terdapat dalam buku ajar, secara eksplisit terdapat dalam ilustrasi-ilustrasi dan narasi di dalamnya. Ilustrasi seperti gambar rumah, dilengkapi dengan garasi, taman bunga dan dilengkapi oleh perabotan didalamnya seperti kulkas, vas bunga, televisi, akuarium, dan lukisan adalah menggambarkan kehidupan masyarakat kelas atas. Dalam hal lain, misalnya narasi tentang ayah pergi ke kantor, liburan tiap akhir pekan ke kebun bianatang, perayaan ulang tahun, permainan-permainan berteknologi, tamasya ke daerah pedesaan menunjukkan ke-glamouran anak kelas atas dengan segala fasilitas dimiliki oleh kalangan kelas atas. Kondisi ini apabila dibandingkan dengan kondisi sosial secara umum yang dimiliki masyarakat kelas bawah, tentu sangat jauh berbeda. Namun hal ini hampir tidak disentuh oleh buku ajar sekolah dasar.  Sebuah rumah sederhana, yang jauh dari kesan mewah, hampir tidak pernah digambarkan dalam buku ajar. Mengapa selalu menggambarkan rumah ideal yang dilengkapi oleh ‘garasi? Seberapa pentingkah garasi sehingga rumah ideal selalu terdapat garasi? Ini adalah sebuah ilustrasi yang tidak humanis bagi siswa kalangan kelas bawah. Siswa kelas bawah tentu saja akan mengalami keterasingan atau alienasi (Karl Marx) dengan muatan materi tersebut. Mereka dipaksa mempelajari kehidupan sosial yang sangat jauh dari kondisi mereka sehari-hari. Inilah bentuk kekerasan simbolik.
Lalu bagaimana dengan habitus kelas bawah dalam buku ajar? Habitus kelas bawah tidak mendapat porsi yang sebanding dengan habitus kelas atas. Hanya sekitar 20 % dari total halaman buku ajar. Habitus kelas bawah, sebagian besar digambarkan dengan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kalangan bawah. Pekerjaan tersebut seperti petani, tukang sayur, pedagang keliling, pemulung, tukang becak, penggembala, nelayan dan tinggal dalam rumah dibantaran sungai, pemukiman kumuh. Pekerjaan sang anak dalam ilustrasi seperti membantu ibu berjualan, membantu berdagang, membantu pekerjaan rumah adalah bentuk habitus kelas bawah yang sangat sedikit jumlahnya dalam buku ajar. Meskipun jumlah masyarakat kelas bawah sangat dominan, akan tetapi habitus mereka ternyata mendapat porsi yang sangat sedikit.
Lalu ada apa dibalik pembuatan kurikulum sehingga memuat ilustrasi dan narasi seperti itu dala buku ajar pendidikan dasar? Apa sebenarnya tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan kita? Adakah yang memanfaatkan sekolah sebagai instrumen mempertahankan kelas dan mencapai kepentingan? Apapun alasannya yang jelas secara kasat mata, menurut paradigma simbolik ini adalah bentuk kekerasan terhadap kelas bawah. Siswa dari golongan kelas bawah hanya akan bisa mengandai-andai, merenung dan berharap bisa seperti ilustrasi habitus kelas atas, kelas dominan. Sedangkan bagi siswa kelas atas, hal tersebut sangat lumrah karena mereka mengalami secara empirik dalam kehidupan sehari-hari, yang tanpa perlu diajarkan pun mereka sudah tau. Dalam hal ini terjadi kesenjangan tajam, ketidakadilan dalam Sekolah Dasar (SD).
Buku ajar seharusnya menyajikan materi yang netral dan seimbang. Tidak memihak terhadap kedudukan suatu kelas tertentu, sehingga menghindari bias kelas. Unsur kesimbangan juga merupakan aspek penting karena latarbelakang sosial ekonomi siswa sangat beragam, terutama siswa SD. Oleh sebab itu, narasi atau ilustrasi seharusnya mengakomodasi keberagaman latarbelakang tersebut. Bukanlah sebuah langkah bijaksana apabila menampilkan budaya kelas atas lebih banyak dalam contoh penyampaian materi pelajaran. Budaya-budaya kelas atas harus ditampilkan secara proporsional tanpa mendiskriminasikan budaya kelas bawah. Ada banyak budaya kelas bawah yang patut mendapat apresiasi dibalik kekuarangan yang dialami masyarakat kelas bawah, seperti hidup sederhana dan hemat. Nilai-nilai inilah yang dapat dikembangkan dari sebuah cerita mengenai kehidupan masyarakat kelas bawah sehingga tidak harus diidentikkan dengan kehidupan yang serba kekurangan, kasar, kotor, dan sebagainya.



Total Tayangan Halaman

Popular Posts