Sabtu, 20 April 2019


Baru saja kita berpartisipasi dengan turut serta mensukseskan pemilu, pemilihan langsung anggota legislatif dan eksekutif. Pemilu mengindikasikan bahwa demokrasi negara kita benar-benar berjalan. Berjalannya proses pemilu ini tak terlepas dari peran serta semua pihak, rakyat dalam hal ini yang dibodohi, calon legislatif maupun eksekutif yang bermuka dua, dan pengusaha sebagai pemasok utama modal calon, dalang dari semua lakon (invisible hand).
Pemilu di Indonesia menganut asas LUBER dan JURDIL. Luber (Langsung Umum Bebas Rahasia) dan Jurdil (Jujur Adil) yang merupakan suatu bentuk penghargaan terhadap martabat hak asasi manusia (HAM) dan hukum, selalu dapat dibungkam dengan lembaran-lembaran rupiah dan janji-janji manis oleh para calon yang kelak menduduki kursi parlemen. Pemilu tidak lebih dari sekedar legitimasi kekuatan kelas atas dan kompensasi penderitaan bagi kelas bawah dengan metode manipulasi kesadaran. Pada akhirnya rakyat juga yang akan terkena dan merasakan langsung dampak akibat ulah segenlintir elit yang mempunyai kepentingan di pemilu. Genjer-genjer nang kedokan pating keleler, tetap rakyat akan makan genjer karna tak mampu membeli daging. Harga komoditi tetap fluktuatif dan sangat mustahil untuk stabil karena perhatian utama elit tersebut bukan tertuju pada hal itu, melainkan pada kepentingan individual dan komunal. Lalu mengapa pemilu yang merupakan kebebasan hak asasi manusia dan merupakan indikasi berdirinya demokrasi selalu dan diperuntukkan pada kepentingan elit maupun kepentingan komunal kelompoknya? Perlu rasanya sedikit membahas mengapa demokrasi ini muncul, karna terdapat relevansi antara akar sejarah dan situasi saat ini.
Ide demokrasi diprakarsai oleh pengusaha dan pedagang, akibat penguasa pada saat itu telah memonopoli seluruh bentuk perniagaan. Lantas bagaimana demokrasi mampu menggantikan sistem merkantilis (monopoli perdagangan) dan menggulingkan keabsolutan penguasa?
Manipulasi kesadaran. Manipulasi kesadaran adalah bentuk hegemoni alam bawah sadar manusia untuk menjadi sadar yang tidak dilandasi dengan pengetahuan, yang mampu menggerakkan ide dan materi (bentuk) ke dalam suatu keadaan yang manipulatif. Ini adalah metode yang digunakan oleh orang-orang berjuis (pedagang dan pengusaha) untuk menggerakkan rakyat kelas bawah bergerak menggulingkan kekuasaan penguasa dengan dalih pembebasan atas penderitaan. Rakyat dibuat sadar, tapi rakyat saat itu tidak tau kalau ada kepentingan dibalik kekuatan revolusioner yang diprakarsai oleh golongan borjuis tersebut. Kepentingan borjuasi tak lebih untuk melindungi perniagaan pribadi, sedang rakyat hanya diperalat, sebelum dan sesudah hancurnya otoritas penguasa. Otoritas tunggal penguasa digantikan oleh otoritas individu atas sumber daya, tetap saja penindasan terjadi pada rakyat yang tidak memiliki otoritas.
Sesuai dengan sejarahnya, selalu kekuatan massa dimanfaatkan untuk kepentingan individual. Pemilu dalam hal ini, yang merupakan dalih atas tegaknya demokrasi, merupakan ajang sikut-sikutan elit ekonomi mapun politik pemilik sumberdaya untuk melindungi dan mempertahankan sumberdayanya tersebut. Lagi, sama seperti sejarah awal munculnya demokrasi yang telah sedikit di ulas di atas, rakyat dimanipulasi dengan dalih menuju perubahan dan kesejahteraan. Rakyat sadar bahwa secara individu maupun kolektif pemilu sebenarnya tak akan mampu mengubah kesejahteraan hidup, namun semua dimanipulasi. Pemilu dipublikasikan secara massif, media publik swasta maupun pemerintah selalu mendeklarasikan bahwa pemilu adalah sebuah kewajiban warga negara untuk memilih wakil rakyat dan kepala negara yang akan membawa bangsa ini menuju perubahan dari kepemimpinan sebelumnya.
Terdapat satu diksi yang di isukan secara massif kepada publik agar publik tidak termasuk ke dalam golongan tersebut, yaitu GOLPUT atau golongan putih. Bagi warga negara yang golput, itu menandakan bahwa orang tersebut adalah warga negara yang tidak baik, yang tidak menginginkan perubahan. Selain itu, politik uang calon anggota legislative dan eksekutif juga mampu memanipulasi kesadaran masyarakat kelas bawah. Mereka berbondong-bondong secara antusias datang ke TPS untuk men-coblos surat suara yang terdapat nama calon yang memberikannya beberapa lembar rupiah pada hari sebelum pencoblosan. Pertanyaannya kemudian, Darimana sumberdaya mereka dapatkan? sedang mereka harus menyuap pemilih yang jumlahnya ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribuan?  
Jawabannya adalah Pengusaha. Pengusaha selalu berada dibalik calon-calon anggota dewan, kalaupun bukan dari kekuatan eksternal untuk mensuplai, maka tak lain adalah kekuatan internal sendiri, maksudnya adalah pengusaha mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan eksekutif karna dia memiliki sumberdaya dan untuk melindungi dan memperlancar usahanya maka ia perlu duduk di parlemen. Rakyat sadar bahwa pergantian kursi kepemimpinan tak akan mampu mengubah secara signifikan kebobrokan yang ada, namun mereka dibuat antusias dan tidak bahwa ada kepentingan besar dibalik pesta demokrasi terbesar di negara ini.
Bagaimana kemudian PEMILU ini akan benar-benar demokratis, ketika pesta demokrasi sarat akan kepentingan borjuis? Pemilu seperti ini hanya akan melahirkan elit-elit yang berkarakter individualis dan bukan sosialis, rakyat akan tetap merintih menangis, melihat negara yang dicintai kemudian makin krisis.
 Selalu rakyat yang dibodohi, demi kepentingan borjuasi.




Total Tayangan Halaman

Popular Posts