Baru saja
kita berpartisipasi dengan turut serta mensukseskan pemilu, pemilihan langsung
anggota legislatif dan eksekutif. Pemilu mengindikasikan bahwa demokrasi
negara kita benar-benar berjalan. Berjalannya proses pemilu ini tak terlepas
dari peran serta semua pihak, rakyat dalam hal ini yang dibodohi, calon legislatif
maupun eksekutif yang bermuka dua, dan pengusaha sebagai pemasok utama modal
calon, dalang dari semua lakon (invisible hand).
Pemilu di
Indonesia menganut asas LUBER dan JURDIL. Luber (Langsung Umum Bebas Rahasia)
dan Jurdil (Jujur Adil) yang merupakan suatu bentuk penghargaan terhadap
martabat hak asasi manusia (HAM) dan hukum, selalu dapat dibungkam dengan
lembaran-lembaran rupiah dan janji-janji manis oleh para calon yang kelak
menduduki kursi parlemen. Pemilu tidak lebih dari sekedar legitimasi kekuatan
kelas atas dan kompensasi penderitaan bagi kelas bawah dengan metode manipulasi
kesadaran. Pada akhirnya rakyat juga yang akan terkena dan merasakan langsung
dampak akibat ulah segenlintir elit yang mempunyai kepentingan di pemilu. Genjer-genjer
nang kedokan pating keleler, tetap rakyat akan makan genjer karna tak mampu
membeli daging. Harga komoditi tetap fluktuatif dan sangat mustahil untuk
stabil karena perhatian utama elit tersebut bukan tertuju pada hal itu,
melainkan pada kepentingan individual dan komunal. Lalu mengapa pemilu yang
merupakan kebebasan hak asasi manusia dan merupakan indikasi berdirinya
demokrasi selalu dan diperuntukkan pada kepentingan elit maupun kepentingan
komunal kelompoknya? Perlu rasanya sedikit membahas mengapa demokrasi ini
muncul, karna terdapat relevansi antara akar sejarah dan situasi saat ini.
Ide
demokrasi diprakarsai oleh pengusaha dan pedagang, akibat penguasa pada saat
itu telah memonopoli seluruh bentuk perniagaan. Lantas bagaimana demokrasi
mampu menggantikan sistem merkantilis (monopoli perdagangan) dan menggulingkan
keabsolutan penguasa?
Manipulasi
kesadaran. Manipulasi kesadaran adalah bentuk hegemoni alam bawah sadar manusia
untuk menjadi sadar yang tidak dilandasi dengan pengetahuan, yang mampu
menggerakkan ide dan materi (bentuk) ke dalam suatu keadaan yang manipulatif.
Ini adalah metode yang digunakan oleh orang-orang berjuis (pedagang dan
pengusaha) untuk menggerakkan rakyat kelas bawah bergerak menggulingkan
kekuasaan penguasa dengan dalih pembebasan atas penderitaan. Rakyat dibuat
sadar, tapi rakyat saat itu tidak tau kalau ada kepentingan dibalik kekuatan
revolusioner yang diprakarsai oleh golongan borjuis tersebut. Kepentingan
borjuasi tak lebih untuk melindungi perniagaan pribadi, sedang rakyat hanya
diperalat, sebelum dan sesudah hancurnya otoritas penguasa. Otoritas tunggal
penguasa digantikan oleh otoritas individu atas sumber daya, tetap saja
penindasan terjadi pada rakyat yang tidak memiliki otoritas.
Sesuai
dengan sejarahnya, selalu kekuatan massa dimanfaatkan untuk kepentingan
individual. Pemilu dalam hal ini, yang merupakan dalih atas tegaknya demokrasi,
merupakan ajang sikut-sikutan elit ekonomi mapun politik pemilik sumberdaya
untuk melindungi dan mempertahankan sumberdayanya tersebut. Lagi, sama seperti
sejarah awal munculnya demokrasi yang telah sedikit di ulas di atas, rakyat
dimanipulasi dengan dalih menuju perubahan dan kesejahteraan. Rakyat sadar
bahwa secara individu maupun kolektif pemilu sebenarnya tak akan mampu mengubah
kesejahteraan hidup, namun semua dimanipulasi. Pemilu dipublikasikan secara
massif, media publik swasta maupun pemerintah selalu mendeklarasikan bahwa
pemilu adalah sebuah kewajiban warga negara untuk memilih wakil rakyat dan
kepala negara yang akan membawa bangsa ini menuju perubahan dari kepemimpinan
sebelumnya.
Terdapat
satu diksi yang di isukan secara massif kepada publik agar publik tidak
termasuk ke dalam golongan tersebut, yaitu GOLPUT atau golongan putih. Bagi
warga negara yang golput, itu menandakan bahwa orang tersebut adalah warga
negara yang tidak baik, yang tidak menginginkan perubahan. Selain itu, politik
uang calon anggota legislative dan eksekutif juga mampu memanipulasi kesadaran
masyarakat kelas bawah. Mereka berbondong-bondong secara antusias datang ke TPS
untuk men-coblos surat suara yang terdapat nama calon yang memberikannya
beberapa lembar rupiah pada hari sebelum pencoblosan. Pertanyaannya kemudian, Darimana
sumberdaya mereka dapatkan? sedang mereka harus menyuap pemilih yang jumlahnya
ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribuan?
Jawabannya adalah
Pengusaha. Pengusaha selalu berada dibalik calon-calon anggota dewan, kalaupun
bukan dari kekuatan eksternal untuk mensuplai, maka tak lain adalah kekuatan
internal sendiri, maksudnya adalah pengusaha mencalonkan diri sebagai anggota
legislatif dan eksekutif karna dia memiliki sumberdaya dan untuk melindungi dan
memperlancar usahanya maka ia perlu duduk di parlemen. Rakyat sadar bahwa
pergantian kursi kepemimpinan tak akan mampu mengubah secara signifikan
kebobrokan yang ada, namun mereka dibuat antusias dan tidak bahwa ada kepentingan
besar dibalik pesta demokrasi terbesar di negara ini.
Bagaimana kemudian
PEMILU ini akan benar-benar demokratis, ketika pesta demokrasi sarat akan kepentingan
borjuis? Pemilu seperti ini hanya akan melahirkan elit-elit yang berkarakter
individualis dan bukan sosialis, rakyat akan tetap merintih menangis, melihat
negara yang dicintai kemudian makin krisis.
Selalu rakyat yang dibodohi, demi kepentingan
borjuasi.

