Ramadhan
sebagai bulan yang suci karena didalamnya diturunkanlah Al-Qur’an yang
merupakan kitab suci umat Islam. Kitab suci Al Qur’an adalah petunjuk bagi umat
manusia, pembeda antara yang hak dan yang batil. Bulan ramadhan akan sangat
menjadi bermakna karena didalamnya terdapat ritual ibadah-ibadah yang memiliki
dampak sosial, seperti zakat dan puasa, yang dalam hal ini melatih diri manusia
untuk lebih peduli terhadap keadaan sosial. Dalam tulisan ini, penulis coba
menginterpretasi makna sosial yang terkandung dalam ibadah puasa di bulan suci
ramadhan untuk dijadikan basis ideologis dari sebuah gerakan sosial.
Dalam
perspektif sosial, Islam akan mengalami sebuah redefinisi kata dan makna, tidak
seperti apa yang diyakini oleh kebanyakan orang. Ali Syariati, seorang
sosiolog-humanis berkata “Islam sebagai
agama bukan hanya memerhatikan aspek spiritual dan moral atau hubungan individu
dan penciptanya, tetapi lebih merupakan sebuah ideologi emansipasi dan
pembebasan”. Jadi, Islam sebagai agama menurut Syariati tidak hanya berbicara
soal hubungan antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga mementingkan hubungan
sosial-sesama manusia. Islam telah mengajarkan bagaimana kita diwajibkan untuk
peka dan turut andil dalam mengubah tatanan sosial yang tidak dikehendaki.
Pesan tersebut sudah ada semenjak pertama kali ayat Al Qur’an diturunkan. “Iqra” dalam awal surat Al-Alaq
diinterpretasikan sebagai “bacalah”
yang dalam konteks masyarakat Arab waktu itu ialah sebuah petunjuk untuk Nabi
Muhammad SAW agar membaca, mengkaji, dan menganalisa problematika sosial bangsa
Arab yang saat itu mengalami degradasi moral untuk kemudian memunculkan solusi
atas problematika sosial tersebut.
Dalam
konteks puasa ini, kita dapat merelevansikan ungkapan Ali Syariati tersebut
dalam sebuah interpretasi sosial bahwa “puasa
adalah sebentuk empati yang ditunjukkan kepada kaum lemah dan miskin untuk ikut
merasakan kepedihan di atas penderitaan dalam segala pengekangan terhadap
kebutuhan-kebutuhan dasariah manusia. Puasa akan memperhalus rasa kasih saying
dan kepedulian terhadap sesama manusia”. Artinya, puasa memiliki pesan
sosial bahwa kita harus peka, peduli, dan turut serta berkontribusi dalam
membantu kaum lemah untuk mendapatkan haknya. Sebuah ketimpangan antara doktrin
dan realitas, seandainya orang yang berpuasa hanya peduli dengan urusan
individual dirinya dengan Tuhan saja, tapi tidak memikirkan bagaimana nasib
orang-orang disekelilingnya yang mungkin serba kekurangan. Orang dengan tipikal seperti ini menandakan
bahwa ia hanya memahami ibadah puasa secara parsial (dalam hal ini vertikal), dan
tidak secara holistik (vertikal-horizontal).
Ada
berbagai macam ketimpangan sosial yang terjadi diluar realitas diri manusia,
yang mungkin sedikit banyaknya juga memengaruhi kehidupannya. Satu contoh
misalnya yang terjadi di kampus kita tercinta, UIN Raden Intan Lampung soal
kebungkaman Rektor tentang UKT mahasiswa. Ditengah masa pandemik ini, banyak
orangtua mahasiswa yang mengalami kelangkaan ekonomi dikarenakan aktifitas ekonomi lumpuh, harga komoditas
pertanian menurun, tempat berdagang dilarang beroperasi, bahkan sampai
mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sehingga akan sangat memberatkan apabila di semester depan harus membayar UKT penuh. Rektor sampai
dengan hari ini juga belum mengeluarkan statemen apapun terkait dengan masalah
UKT tersebut. Namun yang sangat disayangkan adalah, munculnya kepasrahan, rasa pesimistis
dan keputusasaan, dan terlebih parah sikap egois dan ketidakpedulian dari mahasiswa
(yang cenderung berasal dari keluarga mampu) terhadap keadaan mahasiswa lain
yang level ekonominya berada dibawahnya yang akhirnya tidak ada gerakan untuk memperjuangkan hal tersebut. Padahal apabila direlevansikan dengan
semangat sosial dalam ibadah puasa, seharusnya ini menjadi permasalahan kolektif dan harus diselesaikan secara koletif pula. Semua saling menguatkan, saling bergandeng
tangan dan saling mendegradasi struktur-struktur penindas dalam dirinya (egois,
pesimis, ketidakpedulian), serta menyatukan semangat dalam satu garis perjuangan, yaitu menuntut Rektor
agar mengambil langkah yang adil dan bijaksana.
Merekonstruksi
makna puasa untuk dijadikan basis ideologi perlawanan terhadap struktur penindas
akan menghantarkan terciptanya sebuah
kebijakan atau tatanan yang berkeadilan. Maka dari itu, mari sama sama kita
refleksikan puasa dibulan ramadhan ini untuk membangkitkan rasa kepekaan dan
kepedulian sosial agar kemudian ibadah ini benar-benar bermakna dan berdampak, baik
secara individual maupun sosial
0 komentar:
Posting Komentar