Kamis, 30 April 2020



Ramadhan sebagai bulan yang suci karena didalamnya diturunkanlah Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam. Kitab suci Al Qur’an adalah petunjuk bagi umat manusia, pembeda antara yang hak dan yang batil. Bulan ramadhan akan sangat menjadi bermakna karena didalamnya terdapat ritual ibadah-ibadah yang memiliki dampak sosial, seperti zakat dan puasa, yang dalam hal ini melatih diri manusia untuk lebih peduli terhadap keadaan sosial. Dalam tulisan ini, penulis coba menginterpretasi makna sosial yang terkandung dalam ibadah puasa di bulan suci ramadhan untuk dijadikan basis ideologis dari sebuah gerakan sosial.
Dalam perspektif sosial, Islam akan mengalami sebuah redefinisi kata dan makna, tidak seperti apa yang diyakini oleh kebanyakan orang. Ali Syariati, seorang sosiolog-humanis berkata “Islam sebagai agama bukan hanya memerhatikan aspek spiritual dan moral atau hubungan individu dan penciptanya, tetapi lebih merupakan sebuah ideologi emansipasi dan pembebasan”. Jadi, Islam sebagai agama menurut Syariati tidak hanya berbicara soal hubungan antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga mementingkan hubungan sosial-sesama manusia. Islam telah mengajarkan bagaimana kita diwajibkan untuk peka dan turut andil dalam mengubah tatanan sosial yang tidak dikehendaki. Pesan tersebut sudah ada semenjak pertama kali ayat Al Qur’an diturunkan. “Iqra” dalam awal surat Al-Alaq diinterpretasikan sebagai “bacalah” yang dalam konteks masyarakat Arab waktu itu ialah sebuah petunjuk untuk Nabi Muhammad SAW agar membaca, mengkaji, dan menganalisa problematika sosial bangsa Arab yang saat itu mengalami degradasi moral untuk kemudian memunculkan solusi atas problematika sosial tersebut.
Dalam konteks puasa ini, kita dapat merelevansikan ungkapan Ali Syariati tersebut dalam sebuah interpretasi sosial bahwa “puasa adalah sebentuk empati yang ditunjukkan kepada kaum lemah dan miskin untuk ikut merasakan kepedihan di atas penderitaan dalam segala pengekangan terhadap kebutuhan-kebutuhan dasariah manusia. Puasa akan memperhalus rasa kasih saying dan kepedulian terhadap sesama manusia”. Artinya, puasa memiliki pesan sosial bahwa kita harus peka, peduli, dan turut serta berkontribusi dalam membantu kaum lemah untuk mendapatkan haknya. Sebuah ketimpangan antara doktrin dan realitas, seandainya orang yang berpuasa hanya peduli dengan urusan individual dirinya dengan Tuhan saja, tapi tidak memikirkan bagaimana nasib orang-orang disekelilingnya yang mungkin serba kekurangan. Orang dengan tipikal seperti ini menandakan bahwa ia hanya memahami ibadah puasa secara parsial (dalam hal ini vertikal), dan tidak secara holistik (vertikal-horizontal).
Ada berbagai macam ketimpangan sosial yang terjadi diluar realitas diri manusia, yang mungkin sedikit banyaknya juga memengaruhi kehidupannya. Satu contoh misalnya yang terjadi di kampus kita tercinta, UIN Raden Intan Lampung soal kebungkaman Rektor tentang UKT mahasiswa. Ditengah masa pandemik ini, banyak orangtua mahasiswa yang mengalami kelangkaan ekonomi dikarenakan aktifitas ekonomi lumpuh, harga komoditas pertanian menurun, tempat berdagang dilarang beroperasi, bahkan sampai mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sehingga akan sangat memberatkan apabila di semester depan harus membayar UKT penuh. Rektor sampai dengan hari ini juga belum mengeluarkan statemen apapun terkait dengan masalah UKT tersebut. Namun yang sangat disayangkan adalah, munculnya kepasrahan, rasa pesimistis dan keputusasaan, dan terlebih parah sikap egois dan ketidakpedulian dari mahasiswa (yang cenderung berasal dari keluarga mampu) terhadap keadaan mahasiswa lain yang level ekonominya berada dibawahnya yang akhirnya tidak ada gerakan untuk memperjuangkan hal tersebut. Padahal apabila direlevansikan dengan semangat sosial dalam ibadah puasa, seharusnya ini menjadi permasalahan kolektif dan harus diselesaikan secara koletif pula. Semua saling menguatkan, saling bergandeng tangan dan saling mendegradasi struktur-struktur penindas dalam dirinya (egois, pesimis, ketidakpedulian), serta menyatukan semangat dalam satu garis perjuangan, yaitu menuntut Rektor agar mengambil langkah yang adil dan bijaksana.
Merekonstruksi makna puasa untuk dijadikan basis ideologi perlawanan terhadap struktur penindas  akan menghantarkan terciptanya sebuah kebijakan atau tatanan yang berkeadilan. Maka dari itu, mari sama sama kita refleksikan puasa dibulan ramadhan ini untuk membangkitkan rasa kepekaan dan kepedulian sosial agar kemudian ibadah ini benar-benar bermakna dan berdampak, baik secara individual maupun sosial


0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Popular Posts