Rabu, 15 Juli 2020


       Syiah merupakan akar kata dalam bahasa Arab sya’a-syiya’an yang berarti mengikuti atau menemani. Pengagum Ali yang kemudian berubah karna motivasi politik, menjustifikasi keutamaan beliau dengan dasar-dasar nash dan memunculkan hadis yang jadi dasar imamah Ali : Engkau dan pengikutmu akan dipenuhi cahaya di Hari Kebangkitan. Kemunculan Syiah tidak terpisah dari kesejarahan Ali bin Abi Thalib, keluarga, dan keturunannya. Pada diri dan pribadi Ali bin Abi Thalib  telah dapat terlihat adanya sikap dan perlakuan yang berlebih-lebihan, begitu pula perlakuan Nabi kepadanya, yang dilihat oleh sahabat-sahabat lain sebagai indikasi khusus atas kekhalifahan terhadap Ali. Perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan Ali terhadap Nabi merupakan hal yang tak ternilai. Di saat-saat kritis dimana kaum Quraisy mengepung rumah Nabi dan ingin membunuhnya, Ali justru menggantikannya di tempat tidur, sebuah sikap patriotism yang tak bisa diragukan. Beberapa perang juga yang melibatkan Ali mengalami kemenangan seperti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khaibar maupun Perang Hunain.
         Pengikut Ali percaya bahwa setelah Nabi wafat, kekhalifahan dan kekuasaan agama berada di tangan Ali bin Abi Thalib. Hal ini dibuktikan oleh Nabi pada saat awal-awal kenabiannya, sesuai dengan ayat Al-Qur’an surat As-Syu’ara ayat 214, ketika Ali diperintahkan mengajak kerabat terdekat untuk memeluk agama Islam, Nabi menjelaskan kepada mereka bahwa siapapun yang pertama-tama memenuhi ajarannya akan menjadi penerus dan pewarisnya. Ali bin Abi Thalib adalah yang pertama tampil ke depan memeluk Islam, Nabi menerima penyerahan diri Ali dan kemudian memenuhi janjinya. 
           Hadis-hadis Nabi yang menunjukkan bahwa Ali bin Abi Thalib-lah yang memiliki hak untuk menjadi pemimpin sesudah Rasulullah wafat, terdapat antara lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi:
“Dari Jabir bin Abdullah, bahwasannya Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib; engkau dariku adalah sama kedudukannya Harun di samping Nabi Musa, hanya saja tidak ada Nabi sesudahnya.”
Dari hadis yang lainnya juga disebutkan,
“Dari Imran bin Husain, Rasulullah bersabda ‘sesungguhnya Ali bukanlah lain dariku dan aku tidak dapat dipisahkan darinya, dia adalah pemimpin orang-orang mukmin sesudahku.”
       Hadis-hadis tersebut dijadikan landasan teologis oleh Syiah, diyakini oleh mereka bahwa penetapan Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti dalam kepemimpinan adalah berdasarkan nash. Di dalam Al-Qur’an terdapat istilah Syiah yang terulang setidaknya tujuh kali. Secara implisit semua bermakna “golongan/kelompok”. Adalah tidak relevan jika Syiah di dalam Al-Qur’an ini diartikan Syiah sebagai mazhab dan aliran Syiah seperti yang berkembang sekarang ini.
         Ada yang berpendapat bahwa Syiah muncul karena sinkretisme Islam dengan ajaran agama Persia. Dengan alasan bahwa umat Islam termasuk penganut demokrasi (kebebasan dalam memilih pemimpinnya melalui pemilihan/musyawarah) dan tidak mengenal kekuasaan warisan sebagaimana yang menjadi ajaran pokok agama Persia, bahwa raja yang meninggal telah mewasiatkan dan mewariskan kerajaannya kepada anaknya, begitu seterusnya. Hal tersebut nampak jelas sekali dalam keyakinan Syiah bahwa yang berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah wafat ialah sepupunya yaitu Ali bin Abi Thalib. Karena disamping beliau tidak meninggalkan anak juga karena Ali adalah keluarganya yang paling dekat. Itulah argument yang berpendapat bahwa Syiah muncul dari ajaran Persia, dan Profesor Dawzen adalah salah seorang dari mereka.
         Pendapat lain mengatakan bahwa munculnya Syiah dikarenakan ajaran Yahudi yang mempengaruhinya, dengan alasan bahwa Abdullah bin Saba lah sebagai yang memprakarsai aliran ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Profesor Walhawzen. Di dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh orang-orang Syiah, Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi yang masuk Islam pada masa Ali menjadi khalifah. Ketika ia menghadap Ali, ia mengatakan bahwa Ali adalah Tuhan dan dirinya sebagai nabinya. Ali pun marah dan menyuruhnya untuk bertobat, tetapi ia menolak. Maka ia pun dihukum dengan cara dibakar.
       Kedua pendapat di atas dibantai oleh Dr Abdul Halim Mahmud. Ia mengatakan bahwa Syiah tidak lahir atas pengaruh dua ajaran (Persia dan Yahudi) tersebut, tetapi ia lebih dahulu ada sebelum terjadinya sinkretisme itu. Syiah lahir secara alami, yaitu karena simpati segolongan kaum muslimin terhadap Ali dan keturunannya. 
          Ada semacam Syiah politik, lebih tepatnya Syiah Ali, yakni kelompok Ali yang muncul segera setelah wafatnya Nabi Muhammad. Kalau dicermati, bahwa Syi’i yang asli terdiri dari tiga orang yaitu Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari dan al-Miqdad bin al-Aswad al-Kindi. Hanya saja mereka itu menurut beberapa riwayat memberikan nama-nama lagi-yang memerjuangkan penggantian Ali sepeninggal Nabi, dan oleh karenanya mereka tidak surut dari keyakinannya. Tetapi sejarah, khususnya yang berkenaan dengan Salman dan ramalan di kemudian hari, membuat masa depan generasi Ali dihubung-hubungkan dengan namanya. 
   Suatu obsesi pada imamah sepertinya harus dipertahankan dalam keluarga Ali sebagai keturunan Nabi (Ahl al-Bayt) yang itu pada hakikatnya nyaris tak pernah terpenuhi. Pemerintahan Ali yang tidak berlangsung lama, yaitu mulai tahun 35-40/656-616, merupakan satu-satunya khalifah yang dipenuhi dengan pertentangan, saat putranya Hasan bin Ali hampir tidak dapat dianggap sebagai seorang Khalifah. Kerajaan independen Ali yang pertama didirikan tahun 172/789 di Maroko oleh generasi Hasan, Idris bin Abdullah. Tetapi wilayahnya semua adalah Sunni, tegasnya disini kita tidak memiliki pemerintahan Syiah, tetapi semata-mata sebuah kerajaan Ali. Pada saat itu disana masih ada beberapa negara yang dipimpin generasi Ali, betapapun Imam San’a di Yaman ternyata seorang Syi’I dan terutama keturunan Zaid.
         Sebagai kekuatan sosial, Syiah terpaksa berhadapan dengan begitu banyak pihak dan mendapat perlawanan dalam arena politik, sehingga akhirnya mereka mengabdikan dirinya untuk agama. Pengalaman-pengalaman politik Syiah sangat sesuai dengan perkembangan ini lebih lanjut. Kematian para syuhada generasi Ali silih berganti. Lebih banyak daripada darah Ali ketika dibunuh oleh salah seorang Khawarij, saat itu darah Husain yang tumpah bertempur dengan pasukan pemerintah dan itulah benih dari kelompok Syiah.
     Dorongan dan ide kemarahan lalu benar-benar merasuki Syiah, sehingga kemudian terukirlah sejarah yang penuh dengan permasalahan historis yang rumit, bahkan membuat kehidupan keturunan Ali, yang nyaris tidak pernah mencapai kesuksesan (pemerintahan politik) itu berakhir kesyahidan, biasanya melalui peracunan terhadap para khalifah, sebagaimana yang terjadi pada kasus Hasan I, Ja’far Al-Shadiq, Ali Ridha dan pada tiap-tiap imam dari keseluruhan 12 imam.
       Demikianlah perasaan marah ini, yang timbul karena kepentingan duniawi dan ada generasi Zaid yaitu yang paling dekat dengan Sunni yang sangat profane, telah ditransformasikan kepada sesuatu yang benar-benar berbau agama pada mayoritas golongan Syiah, yaitu pada kematian Husain bagi Syiah meruapakan jalan pembuka dan sekaligus sebagai hasil nyata dari ide agamis lainnya yang mempngaruhi., hal ini ditunjukkan oleh sejarah keagamaan, sering dihubun-hubungkan dengan motif kemarahan, yaitu ide manifestasi sifat Tuhan yang ada pada manusia.



0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Popular Posts