Rabu, 30 Desember 2020

   


  Tesis ini muncul dari dua tokoh generasi awal IFS, Adorno dan Hokheimer. Tesis ini memiliki latar belakang yang menarik, dimana ini berkaitan dengan kemunculan awal IFS dibawah tekanan totalitarianisme Nazi. Adorno dan Hokheimer sempat berpindah ke AS karena nazi yang anti-Yahudi dan sosialis. Disana mereka mulai merefleksikan realitas sosial yang melingkupi masyarakat dunia saat itu, saat dimana abad pencerahan dimulai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan produksi..


    Sebelumnya, Adorno memiliki konsep penting yang menjadi dasar bagi dialektika of enlightenment ini. Konsep tersebut yaitu imanent critique. Konsep ini mengacu pada metode mengkritik sebuah konsep, teori atau situasi,  dengan cara mengevaluasi secara kritis atas istilah itu sendiri, dan menyoroti kontradiksi yang terkandung di dalamnya. 


   Konsep tersebut kemudian digunakan oleh Adorno dan Hokheimer untuk mengelaborasi secara kritis objek dari  apa yang disebut di awal sebagai enlightenment atau pencerahan. Mereka menentang tradisi teori konvensional Barat tentang pencerahan yang merujuk pada periode sejarah abad 18 dan supremasi pemikiran (rasionalisme) yang merobohkan dominasi mitologi atau takhayul. Menggunakan metode imanent critique, keduanya kemudian mengajukan dua tesis yang keluar dari argumentasi tradisional tentang pencerahan : mitos sudah menjadi pencerahan, dan pencerahan sudah kembali ke asalnya, mitologi. 


       Tesis ini didasarkan pada konsepsi tentang perjuangan manusia dengan alam. Proses dialektika sejarah yang kemudian menghantarkan manusia pada upaya melindungi diri dari kekuatan elemental alam dan pada akhirnya melakukan dominasi terhadap alam itu sendiri. Pada akhirnya, produksi pengetahuan dilakukan sebagai mekanisme pertahanan diri. Oleh sebab itu, proses pencerahan sebenarnya sudah dapat dilacak dari tulisan-tulisan Yunani Kuno, dimana manusia berusaha merobohkan supremasi mitologi. Dalam hal ini, mitos adalah sudah menjadi pencerahan. Sebaliknya, mereka melakukan kritik budaya dengan mengajukan tesis selanjutnya yaitu "pencerahan sudah kembali ke asalnya, mitologi". Modernitas yang menjunjung rasionalitas dan kemajuan teknologi, sering menggabungkan ingatan kepada cita-cita mitos dan transendental. Ideologi Nazi misalnya, menggabungkan elemen-elemen modern (tingginya teknologi modern dan industrialisasi) dengan elemen-elemen kuno dan mitologi (seperti panggilan menuju mitologi bangsa Arya di masa lalu). Adorno dan Hokheimer berpendapat bahwa instrumen modernitas yang digaungkan nir-kepentingan atau bebas nilai, sebenarnya telah terikat pada ideologi tertentu. 


    Enlightenment atau pencerahan kemudian digunakan untuk melakukan dominasi (instrumental reason). Pengetahuan tentang ilmu alam dan ilmu sosial serta berbagai teknologi yang dikembangkan dari situ, lebih digunakan untuk alat mengontrol dan mengeksploitasi, bukannya membebaskan manusia (seperti yang termanifestasi dalam sistem produksi kapitalis). Teknologi memperlakukan manusia sebagai sarana daripada tujuan. Karena itulah enlightenment juga adalah proses dominasi: dominasi alam oleh manusia, dominasi internal kondisi manusia itu sendiri, dan dominasi manusia terhadap manusia lain. Runtuhnya manusia dan kemanusiaan" begitu kata Adorno dan Hokheimer. 

   Rasionalisasi, produksi massal atau hal lain yang sering dikonotasikan dengan kemajuan justru sebenarnya mengarah pada barbarisme. Oleh sebab itu, konsep imanent critique digunakan untuk mengkritik pencerahan itu sendiri agar membuka jalan bagi gagasan positif tentang pencerahan yang akan melepaskannya dari jeratan dominasi buta. 


  Konsep imanent critique ini mungkin relevan untuk mengelaborasi 'enlightenment' versi Islam, untuk melihat apakah pencerahan yang terjadi pada masa-masa keemasan Islam (dimana Eropa masih lautan lumpur) ini benar-benar menjadikan manusia yang manusiawi, atau justru didalamnya terdapat proses saling dominasi, tindas-menindas, diskriminatif dan sebagainya... 

    Jangan kemudian kita latah menyebut kala itu adalah masa keemasan dengan menutup pintu ijtihad serapat rapatnya, tanpa mau melihat kembali apa yang terjadi pada saat itu sebenarnya.. Inklusivitas pemikiran sangat berguna untuk membuka jalan positif bagi pencerahan itu sendiri kedepannya... 



1 komentar:

Total Tayangan Halaman

Popular Posts